Cerpen Petualangan Bunga Tidur 2017

Cerpen Petualangan Bunga Tidur 2017

Cerpen Petualangan Bunga Tidur 2017

Ilustrasi Petualangan Bunga Tidur
Karya : Dewi Fatimah
Tanggal Pembuatan : 25 November 2017

Tempat yang tak begitu jelas aku sampai di sana semuanya serba keanehan, di sana mulai gelap. Di kegelapan Aku bersama teman pergi untuk mencari suatu hal yang tak kasat mata. “Aku punya ide, bagaimana kita gunakan aplikasi ini untuk mendeteksinya?”.  Saran temanku. “Bagaiman mungkin alat seperti itu bisa mendeteksinya, aku tak percaya tentang hal itu, melihat sesuatu yang tak kasat mata hanya bisa dilakukan oleh orang-orang tertentu, bukan lewat aplikasi”. Mereka menguji coba kecangihan aplikasinya supaya ku percaya.


Selangkah demi langkah kita coba lewati di semua sudut yang angker. Kami berpencar untuk mencari hal yang misterius, ku mendengar teriakan yang keras siapa lagi kalau bukan dia yang cerewet “Dewi, di sini aku menemukannya, bertanda merah dan berbunyi aplikasinya”. Beritahunya. Aku segera lari mendektainya, benar saja aura di rumah kosong itu banyak sekali makhluk tak kasat mata sehingga ku tak sanggup menahan kekuatan negatif itu. “Ayo pergi meninggalkan tempat ini” perintahku. Mereka tak mau mendengarkanku, asyik dengan gadget yang dibawa untuk mencari keberadaan makhuk tak kasat mata.

Hanya aku diantara mereka yang bisa melihat dan merasakan keberadannya. Bingung, kenapa ada kekuatan yang melekat di diriku. Pikiranku melayang ke angkasa, mengawasi temanku dari udara. Terdengarlah suara itu lagi “Dewi, ku menemukannya lagi di pohon yang rimbun ini banyak sekali, coba lihat!”. Sebenarnya aku tak sanggup untuk mendekatinya, karena mereka sudah mulai terusik dengan keberadaan kami yang terus mencari. Benar saja, kata temanku disana banyak sekali kekuatan jahat yang sedang merencakan untuk menghancurkan kaum kami.

Aku berpura-pura kuat dan tegar, ternyata salah satu temanku menegurku “ Dewi, awas di atasmu ada yang mau menarik!”. Terkejutlah aku  saat melihat ke atas, wanita jahat itu mulai menarik tanganku melayang ke udara, wajahnya yang seram, baju warnanya yang putih kotor itu terus mencoba membawa pergi tubuh ini. Aku ketakutan ya Allah, dimana sebenarnya ini. Dengan sekejap teringatlah ternyata aku memiliki kekuatan untuk mengalahkan kekuatan jahat ini yang membawaku pergi. Aku ucapkan ayat-ayat suci itu sambil melihatnya dengan rasa ketakutan yang mulai menyelimuti. “Doa Ayat Kursi”. Secara perlahan mulai dilepas genggamannya yang di pergelangan tanganku.

Perlahan tubuhku turun ke bawah, dari udara ku mendengar suara yang ricuh, suara harimau yang saling bersautan. Dilanjut dengan suara singa dan srigala. Hatiku mulai kacau bagaimana keadaan temanku disana. ku mulai kalut, sampailah di daratan. Melihat disekeliling, mereka berteriak untuk meminta tolong “Dewi tolong....tolong ku”. Aku mendengarnya, mencari sumber suaranya. “Tolong...”. suaranya mulai dekat, tak asing lagi ditelingaku. “Tolong........” semakin kencang suaranya. “Oh tidak aku terlambat, ia telah dimakan iblis itu”. Binatang buas itu tanpa ampun membati buta mengancurkan kawanku. “Bersembunyilah, di rumah kosong itu jangan pernah keluar”. Teriakku sambil mentransfer energi positif yang berasal dari tubuh ke rumah kosong itu agar binatang buas tak berani menyakiti mereka.

Untungnya mereka menuruti perkataanku, sementara tubuh ini mulai lemas untuk berjalan ataupun lari sudah tak kuasa. Ku memandangi setiap sudut ternyata segerombolan binatang buas itu mulai menatap ke arahku, sekuat tenaga aku berlari sekencang-kencangnya melewati pohon-pohon yang menjulang tinggi. Langkah kaki ku terhenti seketika, saat melihat anak kecil yang menangis karena ketakutan. Aku bimbang antar menyelamatkan anak itu atau lari begitu saja. “Oh tidak binatang buas itu semakin dekat, kalau tak segera diselamatkan anak itu akan mati”. Tak perlu lama lagi, ku langsung menggendongnya berlari untuk menyelamatkan diri dari kejaran binatang buas yang kejam itu.

Langkah kaki ini mulai melemah, untuk berpijak saja sudah tak kuat. ku melihat di seberang sana masih ada penduduk yang masih hidup, cukup aman disana. Memohonlah ke lelaki tua  untuk berlindung di rumahnya “Pak, berikanlah tumpangan sejenak, diluar sana sangat berbahaya untuk kami” Aku menangis untuk memohon, laki-laki tua itu ternyata sangat baik sekali. Akhirnya diperbolehkan masuk ke rumah gubug itu.

Ternyata ia mempunyai seorang istri dan dua anak laki-laki yang selamat. Ku sedikit gelisah dengan penampilan mereka yang sangat menyeramkan, hanya menggunakan panutup di alat kelaminnya saja. Kedua anaknya mengeluarkan pisau tajam yang biasa digunakan untuk berburu, diasahlah pisau tersebut. Ku mulai ketakutan melihat tingkah keluarga ini yang mulai mencurigakan. “Saya mohon, jangan bunuh dan makan kami, di sini saya sangat membutuhkan pertolongan kalian, diluar sana sangat berbahaya”. Mereka tak menjawab permintaanku, hanya tersenyum menatap diriku dan adik kecil yaang telah diselamatkan.

Tak lama kemudian terdengar suara harimau dan serigala yang bersautan. Aku hanya bisa pasrah dengan nasib hidup, tak akan selamat dari sini. “Naiklah di sini, duduk bersama adikmu itu” perintah laki-laki tua itu. Tiba-tiba rumah yang aku tempati, mulai begerak layaknya mobil. Secara perlahan-lahan  menjauh dari segerombolan bintang buas. Penakku mulai lega, karena kami semakin jauh. Jebrettttt....terdengar suara benturan “Ada apa ini pak?” tanyaku. Dengan entengnya dia menjawab “Menabrak pohon, kita sudah memasuki hutan”. Kendaraan yang aneh ini, hanya tinggal kerangka saja namun masih bisa digunakan dan kecepatannya mulai menurun akibat benturan tadi.

Sejauh mata memandang, nampak begitu jelas pemandangan hutan yang sangat menyeramkan sudah dikuasi oleh kekuatan iblis, aura negatif mulai menusuk di kulit tipis. “Berpeganglah, kita akan menyebrang ke hutan sebelah” perintah lelaki tua. Ku pegang dengan erat yang ada disekitar. Di sudut sana, harimau, singa dan srigala telah bersatu untuk memangsa. Mereka mendengar suara laju kendaraan aneh ini. “Oh tidak, mereka mengetahui keberadaan kita” kata batinku.

Dalam keheningan, duka dan nestapa hanya tersisa kami yang masih hidup di hutan kegelapan ini. Sedikit lega, kami telah berhasil memasuki hutan yang di rasa sangat aman sejuk di penuhi aura positif. Terlihat senyum dari mereka. Namun, ku merasakan kejanggalan semakin ke arah lurus aura negatif mulai terasa di kulitku saat memasuki tempat latihan tentara. “ Tolong.....” terdengar lirih sekali suaranya “Tolong....tolong...tolong” terdengar suara yang semakin dekat. Tiba-tiba muncul sekelompok orang yang sedang di kejar binatang buas itu.

Dari samping mereka mereka mengejar kendaraan kami untuk meminta pertolongan “Cepatlah lari, berpeganglah” teriak lelaki tua itu. “Musibah macam apa ini, sehingga aku harus ketakutan seperti ini”. Akhirnya satu-persatu terselamatkan. Cuma betapa terkejutnya diriku melihat salah satu orang yang sedang melopat dan berhasil meraih kendaraan, langsung diterkam dari samping dan memakannya tanpa ampun. “Tidak mungkin........”. teriak sahabatnya. “Sebenarnya binatang buas itu mkhluk semacam apa?” Rasa penasaranku “Mereka makhluk zaman purba yang muncul kembali, yang memiliki tubuh yang tinggi, besar”. Saut salah satu tentara. Sudah tak penasaran lagi setelah mendengarnya.

Kejauhan ku melihat tempat penampungan. Ku turun dibantu dengan orang yang di sana, tapi aneh dimana lelaki tua dan keluarganya, yang aku lihat hanya tentara saja. Hilang begitu saja bak ditelan bumi. Terdesak aku masuk untuk melihat-lihat, ternyata disana ada sosok Ibu dan Ayah. Tetapi, mereka tak mengenaliku “Ayah.....Ibu....”. mereka hanya sibuk memindahkan barang untuk mempersiapkan tempat untuk tidur. Sedih, orangtuaku tak mengenaliku, orang-orangpun sibuk membereskan tempat penampungan untuk masyarakat yang selamat.

Selang waktu yang tak begitu jauh, akupun mendengar suara lagi. Kali ini berbeda tak menyeramkan, mirip lagu yang sering di putar olehku “Nanananana....nananana...nnananan” suara itu bertambah kencang  dan semakin kecang “Nanannananana....nnaannana” terdengar begitu berisik sehingga membangunkan tidurku yaitu alarm ponselku, ternyata hanya mimpi.
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar

No comments

Blog allow coment

close