Cerita Pengalaman Masa Kecilku Bersama Makhluk Dari Dunia Lain

Cerita Pengalaman Masa Kecilku Bersama Makhluk Dari Dunia Lain

Cerita Pengalaman Masa Kecilku Bersama Makhluk Dari Dunia Lain

Ilustrasi Masa Kecilku Bersama Makhluk Dari Dunia Lain


Masa Kecilku sering sekali sendiri, tak ada teman yang mau bermain denganku. Hari itu benar-benar terpuruk dan sedih melihat teman-temanku yang membenci diriku tanpa sebab. Aku menangis lari menjauh dari mereka menuju rumahku yang tak jauh lokasinya dari sekolah. Masuklah ku duduk sendirian menghadap cermin sambil menangis. Ku terus memandangi cermin itu, melihat wajah yang penuh kesedihan dan kesepian. Setiap ada masalah aku pasti pergi ke cermin untuk membuang semua masalah yang menimpa. Bahkan kadang membenci diriku sendiri.

Semasa Sekolah Dasar masih aku ingat selaksana perirtiwa itu, aku yang terkenal dengan kepandaian dan tak mempunyai teman. Di rumah ku selalu di suruh untuk belajar, jarang sekali di beri waktu bermain. Dari situlah aku mulai merasa kesepian, setiap hari kegiatan di rumah seperti itu. Orangtua yang selalu bekerja seakan tak punya waktu untukku. Ada mereka hanya menggembleng ku untuk terus belajar. Makanya aku selalu menjadi juara kelas di sekolah. Tapi, semua prestasiku yang di dapatkan tak seindah masa kecil. Ku sangat kesepian di sekolah, hingga aku memutuskan tetap menyendiri.

Terkadang terkucilkan, ya waktu itu aku melihat salah satu kakak kelas sedang melakukan ritual seperti memanggil hantu di samping halaman sekolah dekat dengan perkebunan warga. Aku yang masih kecil hanya bisa menebak, mereka memanggil hantu benar atau tidak hantu bakal datang menemui kita. Ku melihat mereka langsung menari-nari seperti orang kesurupan, kalau di daerah ku namanya sintren. Mereka menari hanya acting atau sungguhan. Keyakinan ku mengatakan mereka sungguhan, karena membaca mantra-mantra gitu.

Sejak mendengar dan melihatnya aku mulai meniru mereka. Ku berfikir dengan cara ku membaca mantra bisa mendapatkan sahabat walau itu tak nyata di dunia. Setiap hari ku membaca mantra itu, ya sontak saja aku terkejut korek api itu bergerak sendiri. Merasakan ada yang hadir di sampingku. Ada dua anak kecil yang seusiaku pada saat itu. Aku masih ingat namanya putri dan bintang. Apakah hanya halusinasi saja karena aku merasa kesepian? Aku rasa tidak, walau ku tak sering melihat mereka, tapi aku yakin mereka ada disini.

Bahkan aku sempat berfikir apakah Aku gila? Setiap ku mengalami kesedihan pasti yang pertama aku panggil mereka. Putri dan bintang, mengobrol sendiri di cermin meluapkan semua permasalahanku. Hari itu banyak sekali tekanan, anak perempuan di sekelas tak mau duduk sebangku denganku. Ku sedih, mereka yang ku ajari dulu kini berubah setelah mereka pandai. Sikapnya berubah menjadi sombong tidak mau dekat denganku. Itu membuatku semakin hancur, prestasi sekolah mulai menurun. Posisiku yang menjadi juara kelas tergeser oleh mereka.

Melihat perkambangan yang semakin menurun ayah memukuli ku sampai menangis, ditempat tidur nenek tangannya mulai menyubit dan memukulku. Setelah dia pergi, ku tak berhenti menangis, ku bercerita di depan cermin lagi bersama kedua sahabatku yang cantik-cantik mereka mengenakn gaun putih yang bersih. Ku menceritakan semua kesedihan, bahkan ku membuat sebuah perjanjian dengan mereka agar tetap melindungi diriku dari orang-orang yang berusaha menyakiti diriku. Ku memerintahkan mereka supaya masuk di permata yang dicincin dan kalung yang aku pakai.
Mereka bersedia masuk di cincin dan kalung yang ku kenakan.

Rasa percaya diri telah kembali, walaupun ku sendirian tak ada teman bermain tapi aku yakin putri dan bintang teman yang berbeda tetap berada di dekatku. Hari itu ada siswa pindahan dari Jakarta, dia begitu tampan dan putih. Rasa suka muncul dengan tiba-tiba. Masih anak bawang gini sudah tau cinta. Dia tau ku suka dengannya, tapi sayang dia tidak suka denganku. Karena menyampaikan perasaan yang terlalu mengejekku, amarahku meluap. Ku sedih langsung bercerita dengan putri dan bintang. Dalam pikiranku terlintas, dia harus sakit untuk menerima hukuman dariku. Itu hanya terlintas, tapi dia malah beneran jatuh sakit selama seminggu di susul dengan cewek yang dia suka. ukah kedua teman ku membantu membalas dendam yang ada di hatiku.

Aku teringat dengan perjanjian yang telah kita buat, tidak boleh ada orang yang menyakitiku dan berjanji menjagaku. Ngeri juga, kadang aku takut dengan segala ucapanku. Ku tak berani menyumpahi orang lagi. Siang itu, Ibuku meminta untuk melepas perhiasan yang ku pakai. Katanya mau dijual untuk memenuhi semua kebutuhan hidup. Sontak ku terkejut, ku tidak mau berpisah dengan mereka yang setiap hari menemaniku. Sedih sekali saat benda itu di jual ke tukang emas. Ku telah kehilangan mereka, setiap malam ku berharap mereka kembali. Tapi mereka tak kunjung datang juga. Mungkin mereka sudah menemukan teman yang lebih menyenangkan daripada Aku.

Hingga Aku tumbuh dewasa, mereka tak kunjung datang. Saat ini yang melindungiku ada sosok maha guru terus menjaga untuk menjauhi dari orang-orang yang berusha menyakitiku. Dia yang memakai sorban, baju putih bersih, jenggot yang panjang dan selalu membawa tasbihnya. Dia salalu berdzikir di sepanjang waktunya.

Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar

No comments

Blog allow coment

close