Cerita Pribadi Saya Menjadi Guru di Pedesaan

Aku sangat menyukai dunia anak-anak salah satunya pada bidang pendidikan. Awalnya aku tak tertarik di dunia pendidikan, tapi semenjak tinggal di pedesaan hati mulai terunggah untuk memajukan pendidikan di Desa tempat kelahiranku. Impian itu terbilang cukup cepat ku lewati. Awalnya ku gadis kecil yang polos namun sekarang ku menjadi sosok guru yang tak bisa terbayangkan sebelumnya. Berbagi ilmu dengan anak-anakku yang menjadi penerus bangsa.
guru di pedesaan
guru di pedesaan


Berapa Lama Perjalanan Dari Rumah Kesekolah?

Ketika Aku Ingin membagikan Ilmu ke anak-anak, setiap hari harus melewati medan yang cukup menantang dan waktu yang lama. Setiap hari ku harus bangun di pagi buta untuk bersiap mengajar, karena sekolah ini cukup disiplin, bayangkan saja masuk kerja jam 06:30 dengan jarak tempuh sekitar 17 KM kalau di hitung permenitnya sih sekitar 35 menit itu pas lagi gak becek jalanannya. Kalau saat musim hujan bisa sampai 45 menit, ya maklum di desa itu sarana jalan itu tak seperti kota, masih banyak menggunakan bebatuan dan tanah dan jauh dari kata layak.

Sudah terlihat bukan? Sebelum sampai lokasi sekolah tenaga sudah terkuras. Jika dibandingkan dengan di kota itu tak seberapa, so pernah punya pengalaman mengajar selama setengah semester yang serba ada di kota, itu juga pas jadi mahasiswa. Pokoknya kalau tinggal di desaku kalau tak punya kendaraan akan susah mengakses kemanapun. Beginilah menjadi Guru di Pedasaan.

Apa Saja Fasilitas yang Ada di Sekolah Pedesaan?

Aku mengajar di sekolah ini terbilang agak terbatas dengan fasilitasnya, yang pertama yang berkaitan dengan media belajar. Proyektor atau infokus sangat terbatas, coba bayangkan deh jumlah di sekolah tempat ku mengajar ada 10 kelas sementara hanya ada 1 proyektor atau infosucus.Kebayangkan??? Gimana untuk menggunakannya, ya kadang kita seperti anak kecil berebut infocus untuk mmeberikan pelayanan yang terbaik untuk anak-anak. Selain itu juga buku sumber untuk pegang siswa pun terbatas, buku hanya ada diperpustakaan yang minimalis, anak-anak tak mempunyai buku pegangan untuk belajar kecuali dai buku catatan yang mereka punya.

Lab komputer juga belum ada, hanya memiliki beberapa laptop yang bisa digunakan. Waktu itu aku pernah melihat anak-anak sedang praktik TIK, buat praktik TIK aja mereka harus mengantri untuk mendapatkan giliran munggunakan fasilitas ini. Sungguh mengharukan, mereka serius untuk menuntut ilmu.

Tak hanya itu saja ruang untuk BK dan Aula pun tak ada, harus pintar-pintar memanfaatkan ruangan yang ada. Terkadang kalau ada rapat atau pertemuan wali murid harus menggunakan ruang kelas. Kantin juga masih menggunakan tempat yang alakadarnya. Begitupun dengan lapangan olahraga, ku sering melihat saat jam olahraga mereka harus menumpang di lapangan yang ada di desa lain. Pokoknya minim dari fasilitas.

Itu kan baru saja yang berkaitan dengan media dan fasilitas sekolah. Ternyata sumber segala ilmu (guru) pun kuranng, ada 12 guru sedangkan disekolah ada 3 jurusan. Makanya satu guru memegang beberapa mapel. Mungkin hanya aku yang mengajar sesuai dengan jurusan atau bidang studi yang dipelajari semasa kuliah. Bukannya tak mampu, ku hanya berbagi ilmu yang sesuai dengan kemampuan yang di dalami sewaktu kuliah, supaya lebih ngena ke anak-anak daripada mengajar yang tak sejalur, ujung-ujungnya membuat anak-anak tak paham dengan materi yang dijelaskan. Tapi ruang TU sudah cukup memadai untuk memenuhi kebutuhan TU.

Kegiatan Siswa di Sekolah Pedesaan

Di sekolah yang minim dari fasilitas, tapi anak-anak disini tidak kalah kemampuannya dengan anak-anak di Kota. Setiap pagi ada kegiatan mengaji, terkadang juga ada wawasan literasi yang di sampaikan oleh anak-anak. Ke ungggulan dari sekolah ini ada di Bahasa Inggrisnya, setiap seminggu sekali mengadakan dialog atau berbicara menggunakan bahasa Inggris. Aku juga melihat beberapa anak fasih dalam berbicara bahasa Inggris. Jika ada event di sekolah pasti ada lomba debat berbicara bahasa Inggris.

Setiap hari jumat anak-anak ada acara pensi yaitu pentas seni. Setiap kelas akan di rolling untuk menampilkan pentas seni dengan kreasinya masing-masing. Ada yang menampilan drama, puisi, tarian dan lain-lain. Aku sebagai guru yang mengajar di Desa tak pernah membedakan cara belajar, apa yang aku peroleh selama kuliah dan mengajar di kota aku transfer ke mereka. Sebelum belajar aku memberikan ice breaking untuk anak-anak untuk meningkatkan semangat mereka, terkadang Aku juga memberikan reward Cokelat Silver Queen sebagai tanda rasa bangga atas prestasi yang diperoleh anak yang aktif dan nilai 100 saat ulangan harian maupun PTS/PAS. Berbagi kebahagian dan rezeki dengan mereka suatu kebanggaan tersendiri bagiku.

Kesan, Pesan, dan Pengalaman menjadi Guru di Pedesaan

Menjadi teman sekaligus menjadi Guru itu hal yang sangat menyenangkan, kebahagiaan dan kebanggaan. Aku juga terkadang membacakan puisi untuk mereka, memberikan contoh membaca puisi yang baik dan benar. Mereka sangat menyukai saat ku membaca puisi, bahkan saat mengajar mereka memintaku untuk membacakan sebuah puisi. Rasa kedekatan dengan mereka cukup membuat ku nyaman. Tak jarang anak-anak juga mencurahkan keluh kesahnya mengenai masalah pribadinya.

Selesai KBM di sekolah ku mengajar pukul 14:30 WIB. Ku harus kembali pulang dengan melawati jalanan yang rusak, bebatuan, jalanan yang sepi jarang ada orang yang lalu lalang. Masyarakat beraktivitas Cuma di pagi hari dan anak-anak yang berangkat sekolah. Jika ada kegiatan sampai malam di sekolah aku sampai menginap di rekan kerja. Sore hari saja jalanan sudah sepi, apalagi di malam hari, minim sekali lampu di pinggir jalan. Jadi jalanan terlihat sangat gelap, jalanan yang jarang ada rumah penduduk, kiri kanan terhampar luas sawah dan pekarangan. Itu membuatku takut, untuk melanjutkan perjalanan pulang dimalam hari.

Aku pernah pulang di malam hari, itu pas apes banget di tengah perjalanan motor yang di kendarai mogok. Rasa panik dan ketakutan menyelimuti benakku. Malam yang gelap dan mendung hanya ada aku yang sedang menuntun sepeda motor. Di kegelapan aku berjalan sendiri, pokoknya mau nangis rasanya, ada orang lewat hanya lurus saja tak menanyakan atau membantuku. Untungnya tidak jauh dari desa motor mogok, aku mendorong motor kurang lebih sekitar 15 menit. Aku sebagai seorang wanita berusaha untuk jadi sosok yang pemberani.

Mungkin ini pengalaman atau cerita singkat ku mengajar, mungkin kalian sudah mendengar cerita yang seperti ini atau mirip dengan pengalaman ini atau basi gitu. Sebelum Anda merasakan sendiri pasti kalian gak bakal bilang hal seperti ini. Pokoknya bagi Guru yang mengajar di desa sekalipun terpencil, mereka layak mendapatkan penghargaan. Dengan minim fasilitas mereka berani mempertaruhkan nyawa untuk memghadapi medan yang cukup menantang, dan mengahadapi berbagai karakter anak. 

Walaupun minim dalam segala hal, mereka berusaha memberikan yang terbaik dan mencerdaskan anak bangsa. Apalagi Guru yang masih honorer, ikhlas mencerdaskan anak bangsa, cukup mengharukan walau minim honor, terkadang mengeluh untuk memenuhi semua kebutuhan hidup tapi kami tetap semangat demi mamajukan desanya. Mencetak generasi muda yang sukses dan mengharumkan nama bangsa.




Bingung akun grab mu kena suspend ? Dapatkan solusinya!

0 Response to "Cerita Pribadi Saya Menjadi Guru di Pedesaan"

Post a Comment

Blog allow coment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel